Posts

Balasan dari ura-ura

Silahkan letakan itu dulu dalam kotak. Simpan rapi, dan kemas. Suatu saat akan dibuka kembali. Ada sedikit tinta yang tumpah ruah dalam kertas yang sudah ada cerita abstrak yang bersyair dalam cerita itu. Meruak, membeku, hingga berubah menjadi satu jejeran yang kelak akan dilihat mengalir seperti syair atau menjadi gantungan di dalam lemari. Adakalanya melebar, dan mengerucut, tergantung keadaan. Ada beberapa yang menjadi sebuah zat yang pada kemungkinan akan menjadi salah satu boomerang untuk waktu yang tidak bisa di tentukan olehnya. Ditulis, di rangkai dan di harapkan untuk menjadi cerita di masa itu, atau kembali kuletakan kembali dalam kotak kemudian buang di dalam sungai yang mengalir. Kurang keras apa kepala untuk dibenturkan lagi agar lebih sadar diri ? Anda siapa ? Anda sedang mabuk ? atau anda tenggelam dalam muara yang kau ciptakan bersama imajimu sendiri. Bukan sebuah kata bosan yang keluar melainkan jauh dari ekspektasi. Benar adanya, sebuah kotak yang sebenarnya menja...

Yang di cari

Titik lemah adalah sebuah aroma.  Tercium menyengat, menyadarkan, dan ingin segera bangun dari rumah.  Apa yang telah di kejar ? Sebuah asa tanpa prasa ?  Ingin tapi tak menginginkan ?  Apa yang kau damba ? Pengiyaan keadaan ? Atau sebuah gumaman tetangga?  Terjerat dengan sebuah tangisan, menari-nari di atas kegelisaan ? Atau entahlah ? Hanya kau yang paham dengan keadaan.  Sekarang, seperti pangkreas yang ingin selalu berada di sebelah jantung ? Atau menginginkan selancar pembuangan tadi pagi ? Bohong kau, kalau tidak menginginkan sebuah pelukan kan ?  Mengeluh, melepaskan, tanpa berpakain. Bertelanjang dan menangis dengan segala rupa, dengan sebuah aroma dan keadaan yang hangat?  Kesalahamu, kau terlalu menuntut, salahmu kau tidak bisa berpuasa akan semua pilihan yang kau pijaki.  Menyalahkan apa yang sudah tersaji di depan, tidak mahir berterima namun selalu sigap untuk mengeluh.  Sudah kau rasa? Seperti apa ...

Sebuah gelagat hidup

Kewajiban menjadi seorang anak telah terselesaikan. Menjadi kebanggan orang tua, dengan sebuah predikat sarjana. Nama yang dibelangkangnya sudah bertambah 2 huruf. Strata sosial sama saja dengan seseorang yang sudah mengabdi beberapa tahun di belakang meja. Alat pengukur, kalau bukan selembaran transaksi lalu apa ? Pengalaman mungkin ? Ataukah sebuah pikiran liar seperti di dalam hutan? Tidak menjamin seseorang lebih baik dari seorang pelacur malam. Di setting sedimikian rupa untuk menjadi seorang pekerja yang di bayar untuk memperkaya beberapa manusia yang beridiri di divisi tertentu. Menyamaratakan semua manusia dengan kata sukses apabila telah bergelut di balik meja dan hiasan-hiasan kertas yang di sengaja di tumpuk untuk menjadi beberapa selembaran kepentingan. Hidup yang berlangsung secara sistematis. Bangun pagi, bergegas pergi saat mentari baru menyapa di bumi, berteman dengan asap polusi, bunyi klakson, dan kegaduhan metropolitan, menyibukan diri dengan namanya kerjaan, maupun...

Hujan desember

Hari ini jalan pulang yang kutempuh harus melewati samudra. Jarak yang tidak terbatas oleh udara. Inilah pijakanku.  Tetaplah di samping, untuk beberapa hal yang kita duga di balik tirai masa depan.  Mimpi-mimpi yang digantungkan di jemuran dan terpapar oleh rindu. Membuat keadaan mencekam, mengundang sekumpulan awan hitam. Kejelakkan menjadi satu batu kerikil, disaat perjalanan membuntukan jalan.  Ingin selalu, selalu menjadi kata pagi memapar, selamat malam dan gulana yang ku keruhkan di pukul tiga pagi. Merapuhkan diri pada jiwa yang siap untuk kutumpahkan.  Kedua tangan yang siap menjadi satu genggama erat di punggung belakang, dan dagu yang bersentuhan di teliga sebelah kanan.  Membisikan kata-kata sihir, seakan besok akan ada cerita baru untuk menjadi pijakan hidup

Ucapan untuk yang lagi berulang tahun

Beberapa hal yang kita sering salahkan di dunia ini. Kehidupan yang tak sama dengan manusia-manusia lain, baik di dunia nyata dan dunia maya. Banyak yang menganggap dirinya tak lebih dari seogok biji jagung dibandingkan follower-follower di berbagai macam platform. Tindakan membandingkan tak ayal membuat kegelisaan tersendiri. Di usia yang dianggap kebanyakan orang, atau yang saya sebut orang tua , apalagi ketika tahap studi yang telah selesai merupakan bentuk kedewasaan seseorang. Ada jalur yang terpisah, melepaskan masa remaja menuju kedewasaan, ditahap inilah pergejolakan yang beradu mengalami pergoncangan diambang kebingungan. Persembahan masa depan apa yang akan disajikan kepada kedua manusia yang setengah mati dan banting tulang menghidupi dan menyekolahkan ankanya. Jejeran jalan yang harus menjadi pilihan yang membuat bingung untuk melanjutkan langkah di jalan yang mana. Tahun berganti tahun, kebiasaan dan pola pikir menggeser semua kebiasaan menjadi sedikit berbeda, memperhi...

Bayang Angin

Sekarang angin itu sudah kugenggam, kuberikan semua yang diinginkan, kebebasan mencari, dan segala hal yang ada di angin. Aku tepat berdiri di satu tingkatan anak tangga yang kemarin, merasakan ketidak bedaan sebelum dan sesudanya. Dulunya pikiran yang liar menjadi suatu jaminan pasti untuk mengapai bintang. Dan ternyata bintang yang akan di genggam ternyata pada siang hari. Saking bahagianya langit tak pernah membayangkan bintang itu hanyalah bualan, pancingan untuk tetap bersyukur dan tetap menjadi searah jalan untuk menjadi anjing peliharaan yang akan menurut. Banyak nama jalan baru, namun tidak menjadi hal baru di indra pendengaran. Memilih jalur kanan, kiri, tetap lurus atau berhenti sejenak. Aku tepat di jalan itu, jalan yang tak bernama. Memilah, menelaah, mencoba memahami, dan memaklumi untuk menautkan jalan mana yang akan menjadi jawaban atas genggaman angin yang kugenggam.

Satu Langkah Menuju Angin

Image
Raut muka polos, bak bayi baru lahir. Pagi dingin yang membuat seluruh yang katanya mahasiswa baru memadati sepanjang jalan menuju gerbang kampus merah maron, yang menjadi kalimat klise saat didengarkan pada setiap mahasiswanya. Menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan tertawa geli, saat melihat ekspresi senior-senior saat memasangkan muka laiknya jemuran yang hilang, terlihat marah, namun menggemaskan  “inginku cubit saja” , menjadi hal biasa dipandang oleh mata, dikarenakan  “sudahlah, so biasa jaga lia bagini”  bukan bermaksud sombong, apalah saya dibesarkan di lingkungan kampus. Dilihat satu per satu wajah dan dengan otomatisnya otak merekam muka, namun tak berniat berkenalan. Yang katanya dua  sahabat  teman menjadi awal mula kedekatan terjalin, dan tanpa tersadari angka tiga menjadi lima bertambah menjadi enam dan pada akhirnya menjadi satu kelompok, hingga pada saat penutupan masa yang katanya ajang menjadikan para mahasiswa atau dede-dede gemes ini mempu...