Posts

Showing posts from 2018

Hujan desember

Hari ini jalan pulang yang kutempuh harus melewati samudra. Jarak yang tidak terbatas oleh udara. Inilah pijakanku.  Tetaplah di samping, untuk beberapa hal yang kita duga di balik tirai masa depan.  Mimpi-mimpi yang digantungkan di jemuran dan terpapar oleh rindu. Membuat keadaan mencekam, mengundang sekumpulan awan hitam. Kejelakkan menjadi satu batu kerikil, disaat perjalanan membuntukan jalan.  Ingin selalu, selalu menjadi kata pagi memapar, selamat malam dan gulana yang ku keruhkan di pukul tiga pagi. Merapuhkan diri pada jiwa yang siap untuk kutumpahkan.  Kedua tangan yang siap menjadi satu genggama erat di punggung belakang, dan dagu yang bersentuhan di teliga sebelah kanan.  Membisikan kata-kata sihir, seakan besok akan ada cerita baru untuk menjadi pijakan hidup

Ucapan untuk yang lagi berulang tahun

Beberapa hal yang kita sering salahkan di dunia ini. Kehidupan yang tak sama dengan manusia-manusia lain, baik di dunia nyata dan dunia maya. Banyak yang menganggap dirinya tak lebih dari seogok biji jagung dibandingkan follower-follower di berbagai macam platform. Tindakan membandingkan tak ayal membuat kegelisaan tersendiri. Di usia yang dianggap kebanyakan orang, atau yang saya sebut orang tua , apalagi ketika tahap studi yang telah selesai merupakan bentuk kedewasaan seseorang. Ada jalur yang terpisah, melepaskan masa remaja menuju kedewasaan, ditahap inilah pergejolakan yang beradu mengalami pergoncangan diambang kebingungan. Persembahan masa depan apa yang akan disajikan kepada kedua manusia yang setengah mati dan banting tulang menghidupi dan menyekolahkan ankanya. Jejeran jalan yang harus menjadi pilihan yang membuat bingung untuk melanjutkan langkah di jalan yang mana. Tahun berganti tahun, kebiasaan dan pola pikir menggeser semua kebiasaan menjadi sedikit berbeda, memperhi...

Bayang Angin

Sekarang angin itu sudah kugenggam, kuberikan semua yang diinginkan, kebebasan mencari, dan segala hal yang ada di angin. Aku tepat berdiri di satu tingkatan anak tangga yang kemarin, merasakan ketidak bedaan sebelum dan sesudanya. Dulunya pikiran yang liar menjadi suatu jaminan pasti untuk mengapai bintang. Dan ternyata bintang yang akan di genggam ternyata pada siang hari. Saking bahagianya langit tak pernah membayangkan bintang itu hanyalah bualan, pancingan untuk tetap bersyukur dan tetap menjadi searah jalan untuk menjadi anjing peliharaan yang akan menurut. Banyak nama jalan baru, namun tidak menjadi hal baru di indra pendengaran. Memilih jalur kanan, kiri, tetap lurus atau berhenti sejenak. Aku tepat di jalan itu, jalan yang tak bernama. Memilah, menelaah, mencoba memahami, dan memaklumi untuk menautkan jalan mana yang akan menjadi jawaban atas genggaman angin yang kugenggam.

Satu Langkah Menuju Angin

Image
Raut muka polos, bak bayi baru lahir. Pagi dingin yang membuat seluruh yang katanya mahasiswa baru memadati sepanjang jalan menuju gerbang kampus merah maron, yang menjadi kalimat klise saat didengarkan pada setiap mahasiswanya. Menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan tertawa geli, saat melihat ekspresi senior-senior saat memasangkan muka laiknya jemuran yang hilang, terlihat marah, namun menggemaskan  “inginku cubit saja” , menjadi hal biasa dipandang oleh mata, dikarenakan  “sudahlah, so biasa jaga lia bagini”  bukan bermaksud sombong, apalah saya dibesarkan di lingkungan kampus. Dilihat satu per satu wajah dan dengan otomatisnya otak merekam muka, namun tak berniat berkenalan. Yang katanya dua  sahabat  teman menjadi awal mula kedekatan terjalin, dan tanpa tersadari angka tiga menjadi lima bertambah menjadi enam dan pada akhirnya menjadi satu kelompok, hingga pada saat penutupan masa yang katanya ajang menjadikan para mahasiswa atau dede-dede gemes ini mempu...

Nanar

Keram di bagian arteri senyawa, sejalan dengan kesunyian. Mengeram menunggu sekumpulan senyum membucah saat kesejukam rangkulan yang secara zakat di tebarkan untuk kaum duafa kasih, menyokong  untuk menguatkan. Kemungkinan ada hati tergeser kalut hingga secara egois untuk mengenggam. Kesadaran pikiran, aku riuh bersemayam dengan aman berbarengan dengan kemunafikan diri, rasa yang menjelma berkelakar menjadi iblis harapan, yang sewaktu-waktu terhempas di terpa keadaan tak pasti, untuk proklamasi di atas panggung hidup. Semakin bertingkah seperti bocah yang senang mengenggam uang seribu, rajin berlari-lari mengelilingi, lupa akan makna capek. Sini !!! Aku butuh tangisan. Mengertikan aku, terlalu egois untuk kecemasan. Aku serius! Mabuk, candu, dan mati. Susah untuk aku kubur. Untuk sebuah pelukan apakah perlu sebuah kesepakatan akad sewa? Bertahan lebih lama saat insan yang tidak mau disebut sapi menggenggam bukan menggeram. Kuhirup ternyata keliru, atau ketinggian membuat s...

Sisi Lain Dari

Selamat pagi, bagi yang membaca pagi, selamat siang bagi yang membaca siang, selamat sore bagi yang membaca sore, selamat malam bagi yang membaca malam, dan selamat kepada kamu… iya kamu kamu yang membaca. Aku, yang dulu pernah menjadi bagian, sekarang terjembab di sudut-sudut hampa jurang. Dulu yang kutau kecemasan, yang kadang membuat kita saling menanyakan kabar, hingga tiba di waktu yang kita habiskan untuk mencari perhatian dari khalayak banyak untuk sebuah pengakuan, dulu yang terlentang tertawa tanpa salah satu dari diri tak ada merasa kehilangan, mempunyai kekuatan hingga membuat orang sedikit mengangkatkan kening dan tersenyum tipis di ujung bibir. Yang sempat berkata kita akan bersama hingga tak saling meninggalkan, kini kata-kata itu hanya sebagai bualan. Harap teratur, aku masih membahas yang dulu!!. Dulu yang bersama terasa saling, yang saling menunjukan kegigihan dari masing-masing diri. Percaya kekuatan akan mendewasakan satu sama lain. Dulu, iya dulu semua tentang d...

Rasa Majal

Keruncingan pemikiran tak miripnya dengan runcingnya bambu. Berperang tak mengunakan senjata, penyederhanaan hanya sebuah lisan untuk mempertajam ajakan untuk memihak. Mengibarkan bendera kobar api menyala kuat, “kamilah pemenang dari segala permainan”. Terkukung oleh lingkaran yang menyadarkan, namun tak mampu sadar dari kemabukan sisa bir emosi tak berujung. Sederhana, bukan lagi mempermasalahkan sebuah permainan, melainkan sebuah rasa karsa. Anak-anak bermain dan tertawa bahagia, padahal saling memberikan kecanduan yang menerbangkan bak sabu-sabu atau potongan ganja. Beracun tak sadar “sini kuberikan sebuah permen “ berkata dalam hati “sudah kucampurkan ganja”. Tak lagi berkaca pada kenangan hingga lebih sering bermain dengan egosentris. Seakan kata maaf, tak lagi seringan kapas dan ucapan terima kasih tak lagi terpikirkan untuk diutarakan. Berbaiklah, berbahagialah, sebelum berbicara kebahagiaan, marilah saling menyadari untuk keberpihakan bersebelahan. Tak bermaksud merampas paksa...

Belum

Sebuah perkara bermakna ambigu. Tanpa menuntut rasa menjadi karsa yang menguat. Cukup terlelap dan berdampingan hingga tak terbatas. Denting episode-episode saling mengikhlaskan  dan tersungkur di hadapan. Bingung yang tak jelas, seperti apa bentuk dari kehadiran di benakmu; hingga tak satupun jawaban yang mangkir dari setiap tatapan kosong yang melemahkan. Seperti sedang mengenakan jas tebal di terik panas, gerah atas cemas semakin membuat peluh. Taburan cuka, kecut atas gelisa yang saling berkonsinyasi dengan cemas membawa pada dermaga. Benih tumbuh dan bersemi, bermekar bak bunga, meski tak sesuai, walau jujur tanpa sandiwara dan berlari. Akan ada saatnya menyerah pada kecewa. Angin berhembus kencang, membawa tanya tapi tak selalu dibawanya sebuah jawab juga, begitu pun tak semua harap mampu terpenuhi. Terpaku, kaku, membisu, dan ingin menetap. Terdiam seakan diam menjadi hal yang sulit untuk berbicara. UTARAKAN.

Antyanta

Sebab yang berakibat Tatapan yang nanar dan ingin lebih lama untuk menetap, untuk masa di ujung kisah hidup Entah roda sepeda atau sendal yang berjalan bersama namun hanya bisa saling berdampingan namun tak pernah bersatu, hanya memiliki tujuan untuk jalan bersama. Tertanam jelas di kepala, tumbuh dan mengakar kokoh di pikiran untuk semua jalan dan jarak tempuh terlewati. Kau senang sekali mengajari berjalan, berlari, hingga bersenang-senang dan laiknya diorama. Perlahan aku kumpulkan, meraba, dan mengais serpihan kaca pecah akibat kecemasan yang selalu menjadi bumerang untuk aku mengkhawatirkan aku yang sudah berdiri di depan kaca siapa aku ? Produksi dan menghasilkan jawaban, menemukan diriku yang berlari-lari di dalam matamu melihat banyak taman bermain di dalam tubuhmu yang, mungkin, iya mungkin aku sedang sibuk membereskan namun yang lain siap untuk menganggu yang aku bereskan. Pohon yang rindang, hutan yang lebat, dan suara kicauan burung bebas berteriak dan mengeks...

Cua

Kali ini ku kecewa pada gertakan langit, memporak porandakan susuran harapan yang gagal berekspetasi. Kali ini kubenci pada semesta, seperti roman yang bersetting, mengeksploitasi pikiran untuk membenci semesta.  Menyuguhkan semacam teka-teki yang harus di isi. Bersembunyi dibalik jarak namun, enggan melepaskan jemari-jemari. Aku suka. Aku masih disini. Secangkir teh, secarik kertas bertuliskan tulisan abstrak terwalak rapih diatas meja, kepala yang merunduk ke bawah tanah bersandar di atas tangan. Bunyi rintikan di atas genteng asik menari-nari seakan membuat lagu ejekan untuk diriku agar lebih membenci semesta pada malam ini. Permainan apa ini? Membuatku lebih kacau saja, pasca hujan nanti semoga rasa yang tak bernama ini bisa lebih lega setelah membuat berhasil membuatku jadi orang setengah bodoh.  Mempersalahkan pertemuan, tanpa jelas menghadirkan kecewa. Di persimpangan menuju kehilangan, kita akan tersadar akan jarak yang perlahan semesta ciptakan atau memang kau h...

Keruh

Seongok manusia yang terjatuh entah tepat atau di waktu yang salah. Perihal rasa tak perna bisa tertutup dengan rapat. Rasa yang tak berbentuk namun nyata untuk di rasa. Perjalanan membuat kepala dengan enteng bertenggeran di bahu yang entah, siap untuk bersandar atau hanya menyediakan bahu tanpa merasa rasa yang tertinggal. Pasca, semesta menggeser porosnya tepat di hadapan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku, luruh berantakan. Menerbangkan semua janji serapah yang pernah terikat, namun jujur pada diri.  Terlalu naim, menyemburkan sedikit pesam, menaburkan percikan animo yang lirih. Selalu berada pada lingkaran porosmu, membuatku semakin sadar kehadiran yang tak bisa luput. Kau suguhkan cerita malam, cerita gunung, cerita hujan. Dan cerita hingga ku terlalu terlelap. Tenang, kau tak usah khawatir perihal aku yang tidak memaksamu untuk kau hadiahkan jarak lagi untuk aku. Kau rasa yang muncul tak memaksa untuk saling memiliki, namun secara sadar untuk saling menyadari ...

Naim

Satu ikatan sejuta janji menerbangkan sekaligus menjatuhkan impian dan harapan. Terikat  pada namanya KOMITMEN. Tak berniat melukai, namun secara sadar menyayat menembus dengan belati. MAAFKAN AKU. Kejujuran membawa kita dititik ini ada yang terluka ada yang melukai. Tak kuasa memegang kendali diri. Terbang asa hingga kelangit ketujuh, bebas melangkah. Namun, tersadar saat terbang terlalu jauh ada sayap-sayap yang tidak disengaja dipatahkan sekali lagi maafkan aku. Bukan hati ingin melukai, namun dengan cara tak ingin lebih banyak melukai, aku juga harus siap dengan segala resiko bekas kejujuran saat aku, tak lagi menganggap kita akan lebih lama akan baik menjadi KITA. dari aku yang pernah menjadi bagian dari KITA. ;;))))))

Berjarak

Satu jengkal, dua jengkal jarak menujumu sekarang terasa jauh.  Pergi entah menjadi cara terbaik, atau tetap diam mendungu memandangimu dengan berjarak.  Tidak punya pembentang namun berjarak, sekali lagi menyadariku bahwa dengan melihatmu saja menjadi diriku sedikit berbahagia.  Tak menjadi bagian terpenting di bagian manapun, aku tetap tak peduli. Terserah kau menempatkanku di bagian mana.  Seakan aurora sedikit memudah melukiskan rekahan kebahagiaan yang sesaat.

Cedera

Perdebatan yang bergejolak antara siapa yang salah antara yang ditinggalkan dan meninggalkan. Menurutku perihal ditinggalkan atau meninggalkan, diantaranya punya kesempatan merasakan apa itu duka sekaligus luka. Ego seringkali menjadi alasan dimana, dialah korban dari segala perkara. Kau yang menanggung luka, aku yang menanggung duka, hingga kita terlalu lupa dengan rupa pada suka. Sampai-sampai ada yang mengaku paling terluka yang semestinya menyematkan luka. Membanggakan diri sebagai korban yang paling terluka, menuduh yang lain sebagai pelaku. Ingat, kita adalah korban dan pelaku. Namun enggan mau mengaku. Kemarin sudah kuanalogikan pelaku seharusnya menanggung duka, dan dimana-mana tidak ada pelaku yang terluka. Dan korban dari perjalanan ini dialah yang paling merasakan sakitnya terluka, hingga tak layak dipersalahkan lagi. Aku salah dan kamu benar tapi itu menurutku. Namun sesungguhnya aku bingung, siapa yang salah, karena korban dan pelaku hanya ada di pikiran saja, oleh pada da...

Bersekongkol

Kini kita sekarang seperti berada di antara dua persimpangan jalan yang mulai berlawanan arah, entah aku yang sekarang membawamu ke ujung jembatan untuk melompat secara bersamaan, atau kamu yang mendorong paksa agar aku yang jatuh duluan di dasar jurang. Perjalanan kita sekarang memang lagi tidak dalam keadaan baik, mungkin sedang belajar menguji seberapa lama kita bertahan atau memang sudah tak mau menetap lagi, banyak kemungkinan yang mengerumuni nurani. Aku yang sekarang telah sampai hati melukaimu secara perlahan, dan aku yang telah berhasil menyeret mimpimu hingga ke ruang pribadi yang ditaburi harapan, hingga sekarang aku yang perlahan mohon izin pamit saat diri bersandar nyaman, karena apa ? akupun bingung menjelaskan. Setiap sapaan dan candaan hangat untuk mencairkan suasana tak lagi teruntai. Aku yang dulunya percaya diri dengan sebutan rumahmu, yang setelah lelah berkelana, menjadi tempat istrahat dan berteduh, kini tergusur dengan sendirinya karena ulahku. Aku yang dulunya ...