Rasa Majal

Keruncingan pemikiran tak miripnya dengan runcingnya bambu. Berperang tak mengunakan senjata, penyederhanaan hanya sebuah lisan untuk mempertajam ajakan untuk memihak. Mengibarkan bendera kobar api menyala kuat, “kamilah pemenang dari segala permainan”. Terkukung oleh lingkaran yang menyadarkan, namun tak mampu sadar dari kemabukan sisa bir emosi tak berujung. Sederhana, bukan lagi mempermasalahkan sebuah permainan, melainkan sebuah rasa karsa. Anak-anak bermain dan tertawa bahagia, padahal saling memberikan kecanduan yang menerbangkan bak sabu-sabu atau potongan ganja. Beracun tak sadar “sini kuberikan sebuah permen “ berkata dalam hati “sudah kucampurkan ganja”. Tak lagi berkaca pada kenangan hingga lebih sering bermain dengan egosentris. Seakan kata maaf, tak lagi seringan kapas dan ucapan terima kasih tak lagi terpikirkan untuk diutarakan. Berbaiklah, berbahagialah, sebelum berbicara kebahagiaan, marilah saling menyadari untuk keberpihakan bersebelahan. Tak bermaksud merampas paksa, hanya tersungkur oleh lubang nyaman yang berakibat kebahagiaan. Terkadang hidup memang tak bisa membedakan kebahagiaan pada setiap takarannya. Yang di mana terlalu manis hingga membuat penikmat enek, terlalu pahitpun lidah tidak mau menerima. Maafkan tunjuk pada segerombolan, tak maksud hati membuat hati tergores, hingga merasa kepemilikan diraib oleh diri yang bingung di mana letak salahnya. Semuanya ini hanya perihal rasa, seharusnya takaran sebuah rasa dikontrol dan di kendalikan agar tak punya penyakit kolesterol dan menular ke orang lain. Belajarlah keluar dari tekanan yang membuat diri tak berkembang. Kata benci dan tak ingin  belajar memaklumi keadaan, sekedar mengkonfirmasi hanya membuat hati berlari di tempat dan tak kemana-mana namun dendam membara terbakar di arteri sudut pandang. Berpenampilan apik namun seperti senang berguyon dengan topeng yang hanya saling meminjam peran satu sama lain. Pura-pura tak tahu membuat agak terlihat lebih dewasa, dibandingkan menyinggung tanpa rasa senggulung. Teruslah berteriak saling mencaci maki di belakang panggung, hingga bibir panggung roboh oleh pelakon teater yang paling merasa paling. 

Comments

Popular posts from this blog

Satu Langkah Menuju Angin

Cedera

Sebuah gelagat hidup