Satu Langkah Menuju Angin

Raut muka polos, bak bayi baru lahir. Pagi dingin yang membuat seluruh yang katanya mahasiswa baru memadati sepanjang jalan menuju gerbang kampus merah maron, yang menjadi kalimat klise saat didengarkan pada setiap mahasiswanya. Menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan tertawa geli, saat melihat ekspresi senior-senior saat memasangkan muka laiknya jemuran yang hilang, terlihat marah, namun menggemaskan “inginku cubit saja”, menjadi hal biasa dipandang oleh mata, dikarenakan “sudahlah, so biasa jaga lia bagini” bukan bermaksud sombong, apalah saya dibesarkan di lingkungan kampus. Dilihat satu per satu wajah dan dengan otomatisnya otak merekam muka, namun tak berniat berkenalan. Yang katanya dua sahabat teman menjadi awal mula kedekatan terjalin, dan tanpa tersadari angka tiga menjadi lima bertambah menjadi enam dan pada akhirnya menjadi satu kelompok, hingga pada saat penutupan masa yang katanya ajang menjadikan para mahasiswa atau dede-dede gemes ini mempunyai mental kuat alias MOMB (Masa Orientasi Mahasiswa Baru) kami ditutup dengan hymne Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan sekarang telah menjadi FEKON yang Bisnisnya dikeluarkan, karena diekonomi tidak pernah ada bisnis yang terjadi asumsi ngeyel.
Masa perkuliahan dengan circle pertemanan yang masih sama, berbawaan dari MOMB, namun kelas yang berbeda seakan suatu settingan semesta yang dimana perbedaan ini membuat kami bisa bersatu, “heleeh sok serius”. Sistem kuliah yang sama saja tiap semesternya. Di mana saat saya saat masuk dalam kelas dosen tidak masuk, dosen masuk saat saya-nya ingin bolos dan malas bergelayutan, keterlambatan menjadi satu hal yang biasa terjadi disaat dosen sudah berada dalam kelas, tertidur di dalam kelas karena mengantuk dikarenakan semalam nonton drama korea, tugas yang terkadang dikerjaan saat dikelas, kuis yang mendadak dimana terkadang otak harus digunakan untuk membuat karangan bebas, UTS dan UAS yang hanya mengandalkan ingatan saja tanpa belajar, mengharapkan teman sekelompok mengerjakan makalah dan mengambil bagian moderator agar tidak mendapatkan bagian mengetik makala dan ketambah urusan. Dan masih banyak lagi yang terjadi di siklus perkuliahan ditempuh selama di jurusan akuntansi yang katanya “keseimbangan adalah sebuah keharusan” sebuah bait lagu dari hymne akuntansi ciptaan senior saya sendiri.
Hidup di kampus tidak selalu monoton dengan perkuliahan saja, melainkan hidup hedon, dan mencoba dunia baru yaitu berorganisasi. Yaa namanya juga keseimbangan adalah sebuah keharusan yaaa dunia tidak musti berputar di lingkaran dan terkukung oleh zona nyaman. Dengan menjadi sekertaris bidang tiga bagian kemahasiswa dimana jabatan pertama saya di dunia pengorganisasian hingga menjadi bendahara kegiatan MOMB tingkat Fakultas yang tidak pernah menyentuh yang namanya uang MOMB dikarenakan suatu hal, tanpa perlu dijelaskan atau disebutkan, merupakan suatu permainan kecil elit-elit kepentingan untuk meraih segepok uang yang berjatuhan di atas langit entah dari mana. Itulah jabatan terakhir saya di dunia pengorganisasian kampus. Hampir saya lupa, saya juga merupakan bagian dari sekumpulan orang yang mengawas pergerakan organisasi di akuntansi, dengan bahagianya saya menjadi bagian ini dikarenakan saya menjadi wanita satu-satunya diantara kegagahan pria-pria.
Waktu berjalan seperti jam pasir terpaut cepat, manusia-manusia berpendidikan silih berganti menjadi kepentingan saya dikampus, bermacam-macam motiv yang dipegang. Pada saat menuju puncak-puncaknya yang disebut the real drama di dunia perkampusan, dimulai saat semester tujuh dan semester delapan. Cricle pertemanan yang angkuh melebur pecah menjadi dua, yang entah tak beralasan. Selamatlah jikalau bisa melewati ini tanpa drama. Puncak amarah, puncak kesedihan, puncak kemunafikan, puncak kebahagiaan diraih, digenggam dengan ikhlas sampai di saraf otak dan batin. Goncangan kuat membuat batin berayun-ayun. Semakin tua sepertinya otak saya mulai mengeras memikirkan dengan realitas sosial yang ada di sekitar. Dimana manusia hanya mampu menjadi komentator bola tak berani sigap menjadi pemikir untuk mencoba menyelesaikan, menjadi penonton saat melihat peran dingin terjadi, lidah yang tajam saling beradu mana yang kuat menyebarkan hate speech untuk saling mengajak, kurang membaca hingga banyak menyi-nyir dan sindir-sindiran di sosial media, tidak mau berkembang dan memeluk erat nyaman, dan tidak mau berpikir dan sadar diri dengan keadaan lingkungan dan alam. “pembahasan macam apa ini”.
Sekarang tiba di waktu pemindahan tali berwarna merah disebelah kiri kesebelah kanan, mengikuti serangkaian upacara yang diikuti pertama kali dalam hidup, mengucapkan janji alumni, mendengarkan lagu gaudeamus menjadi pengiring para petinggi kampus, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu kebangsaan yang mengugah rasa menjadi rasa bersalah atas apa yang belum diberikan ke negeri tercinta ini. Wajah-wajah kesegaran, senyum sumringah, make up yang menempel di wajah perempuan dan rangkaian bentuk alas kepala menutupi topi toga. Waktu terasa lambat ketika satu per satu mahasiswa melewati panggung sandiwara, menebarkan senyum semanis mungkin ke rektor dan terlihat manis di depan live streaming yang akan di tonton oleh orang banyak.
Selamat hari wisuda, hari ini menjadi hari kalian, menjadi hari keluarga bangga telah mempunyai kalian dengan hasil keringat untuk menyekolahkan hingga akhir.
Mama, Ayah yang jauh maafkan.




Comments

Popular posts from this blog

Cedera

Sebuah gelagat hidup