Sebuah gelagat hidup

Kewajiban menjadi seorang anak telah terselesaikan. Menjadi kebanggan orang tua, dengan sebuah predikat sarjana. Nama yang dibelangkangnya sudah bertambah 2 huruf. Strata sosial sama saja dengan seseorang yang sudah mengabdi beberapa tahun di belakang meja. Alat pengukur, kalau bukan selembaran transaksi lalu apa ? Pengalaman mungkin ? Ataukah sebuah pikiran liar seperti di dalam hutan? Tidak menjamin seseorang lebih baik dari seorang pelacur malam. Di setting sedimikian rupa untuk menjadi seorang pekerja yang di bayar untuk memperkaya beberapa manusia yang beridiri di divisi tertentu. Menyamaratakan semua manusia dengan kata sukses apabila telah bergelut di balik meja dan hiasan-hiasan kertas yang di sengaja di tumpuk untuk menjadi beberapa selembaran kepentingan. Hidup yang berlangsung secara sistematis. Bangun pagi, bergegas pergi saat mentari baru menyapa di bumi, berteman dengan asap polusi, bunyi klakson, dan kegaduhan metropolitan, menyibukan diri dengan namanya kerjaan, maupun sebuah revisi, menunggu makan siang, melanjutkan tumpukan kerjaan hingga saat mentari meredup, kembali ke tempat peristrihatan dan merebahkan jiwa yang lelah, terlelap dan keesokannya melakukan aktivitas yang sama saja. Kehidupan yang mati, di paksa mati untuk sebuah standart hidup yang baik-baik saja. Apa bedanya dengan pekerja malam lainnya ? 
Untuk meraih sebuah mimpi pun harus menjadi pejilad dulu, penjilad yang handal demi pengakuan manusia lain, yaitu KAYA.  Setelah mendapatkan beberapa selembaran kepentingan, seakan ada tuntutan lain lagi, dengan pertanyaan kapan memilih pasangan ? Dan ada beberapa pintu lainnya yang harus di masuki dengan beberapa pramudiaga lainnya. Hidup terlalu monoton. 


Beruntunglah sebuah anak-anak yang ingin lari sesuka hatinya, berteman dengan berbagai macam manusia tanpa memandang siapa. Sesederhana tertawa lepas bersama hujan. 

Comments

Popular posts from this blog

Satu Langkah Menuju Angin

Cedera