Cedera

Perdebatan yang bergejolak antara siapa yang salah antara yang ditinggalkan dan meninggalkan. Menurutku perihal ditinggalkan atau meninggalkan, diantaranya punya kesempatan merasakan apa itu duka sekaligus luka. Ego seringkali menjadi alasan dimana, dialah korban dari segala perkara. Kau yang menanggung luka, aku yang menanggung duka, hingga kita terlalu lupa dengan rupa pada suka. Sampai-sampai ada yang mengaku paling terluka yang semestinya menyematkan luka. Membanggakan diri sebagai korban yang paling terluka, menuduh yang lain sebagai pelaku. Ingat, kita adalah korban dan pelaku. Namun enggan mau mengaku. Kemarin sudah kuanalogikan pelaku seharusnya menanggung duka, dan dimana-mana tidak ada pelaku yang terluka. Dan korban dari perjalanan ini dialah yang paling merasakan sakitnya terluka, hingga tak layak dipersalahkan lagi. Aku salah dan kamu benar tapi itu menurutku. Namun sesungguhnya aku bingung, siapa yang salah, karena korban dan pelaku hanya ada di pikiran saja, oleh pada dasarnya kita hanya jadi pelakon pada enigma kehidupan. Aku sekarang menjadi takut, iya takut pada keadaan dimana ada perkataan “SELAMAT DATANG” pada pertemuan di depan pintu menuju keterpisahan. Aku telah siap dengan segala resiko, dan konsekuensi yang telah aku perbuat. Tulisan ini dari aku yang masih melek pada pertengahan malam menjelang pagi dengan diri yang mengaku siap dengan perpisahan namun sebetulnya tidak.

Comments

Popular posts from this blog

Satu Langkah Menuju Angin

Sebuah gelagat hidup