Sisi Lain Dari
Selamat pagi, bagi yang membaca pagi, selamat siang bagi
yang membaca siang, selamat sore bagi yang membaca sore, selamat malam bagi
yang membaca malam, dan selamat kepada kamu… iya kamu kamu yang membaca.
Aku, yang dulu pernah menjadi bagian, sekarang terjembab di
sudut-sudut hampa jurang. Dulu yang kutau kecemasan, yang kadang membuat kita
saling menanyakan kabar, hingga tiba di waktu yang kita habiskan untuk mencari
perhatian dari khalayak banyak untuk sebuah pengakuan, dulu yang terlentang
tertawa tanpa salah satu dari diri tak ada merasa kehilangan, mempunyai
kekuatan hingga membuat orang sedikit mengangkatkan kening dan tersenyum tipis
di ujung bibir. Yang sempat berkata kita akan bersama hingga tak saling
meninggalkan, kini kata-kata itu hanya sebagai bualan. Harap teratur, aku masih
membahas yang dulu!!. Dulu yang bersama terasa saling, yang saling menunjukan
kegigihan dari masing-masing diri. Percaya kekuatan akan mendewasakan satu sama
lain. Dulu, iya dulu semua tentang dulu, SAMPAH, KUBANGAN, RAWA-RAWA KUSUKUSU, TAI.
Tapi kemarin. Ahh, sudahlah, cukuplah kamu..kamu
diantaranya, cukup mengerti dan paham dengan semua yang aku lakukan. Tapi bukan
paham dengan tingkahku tapi, terlalu sok paham dengan semuanya tentangku. Tangan
kanan dan kiriku bertemu beritme yang sama melakukan gerakan yang sistematis, tertawa,
berdiri di atas meja dan berteriak. “KALIAN HEBAT”!!! HAHAHAHAHA
Mengajariku segalanya, segala hal apapun, tak terkecuali,
secuil upilpun aku hargai. Tibalah dititik dimana, aku yang melihat kalian di
puncak keangkuhan dengan kobaran api-api yang menyala laiknya kompor gas, tapi
bersumbu pendek saling membakar satu sama lain, mempertontokan rekahan senyuman
lebar, berekspresi kembar, dan membahagia satu sama lain.
Hari ini aku di sisi itupun, tapi hanya saling membelakangi, pandangan yang
setatap sesegera mungkin memalingkan wajah, aku tak tau ada sumbu apalagi
dibelakangnya, silahkan…silahkan saja saling membakar, saling memberikan candu
satu sama lain.
TOXID kedengkian sudah kulontarkan, kesesakan dada yang ku
tahan dari kemarin, sudah mencair menjadi tulisan, salah pahamlah dengan
tulisan ini, biar sadar.
Paragraph yang dulu menjadi awal, tak mungkin bersama lagi
menjadi sebuah kalimat utuh menjadi pelengkap. Aku terbang jauh, terjauh, tapi
bukan menjauh, terlalu bocah. Aku masih menjadi aku yang dulu, aku yang masih dikenal
hingga menjadi sekarang.
Banyak-banyak hingga tumpah di atas tumpukan ember dengan
isi semak-semak busuk dan racun di diri. AKU LEGA. BAHAGIALAH. SALAM UNTUKMU
Comments
Post a Comment