Nanar

Keram di bagian arteri senyawa, sejalan dengan kesunyian. Mengeram menunggu sekumpulan senyum membucah saat kesejukam rangkulan yang secara zakat di tebarkan untuk kaum duafa kasih, menyokong  untuk menguatkan. Kemungkinan ada hati tergeser kalut hingga secara egois untuk mengenggam.
Kesadaran pikiran, aku riuh bersemayam dengan aman berbarengan dengan kemunafikan diri, rasa yang menjelma berkelakar menjadi iblis harapan, yang sewaktu-waktu terhempas di terpa keadaan tak pasti, untuk proklamasi di atas panggung hidup.
Semakin bertingkah seperti bocah yang senang mengenggam uang seribu, rajin berlari-lari mengelilingi, lupa akan makna capek. Sini !!! Aku butuh tangisan.
Mengertikan aku, terlalu egois untuk kecemasan. Aku serius!
Mabuk, candu, dan mati. Susah untuk aku kubur. Untuk sebuah pelukan apakah perlu sebuah kesepakatan akad sewa?
Bertahan lebih lama saat insan yang tidak mau disebut sapi menggenggam bukan menggeram. Kuhirup ternyata keliru, atau ketinggian membuat sakit bertubi dan berkembang biak menjadi ? Menjadi apa kau suka ?
Aku adalah ombak itu, aku juga adalah senja itu. Dan kau! Adalah harap yang belum tersematkan.

Comments

Popular posts from this blog

Satu Langkah Menuju Angin

Cedera

Sebuah gelagat hidup