Bersekongkol

Kini kita sekarang seperti berada di antara dua persimpangan jalan yang mulai berlawanan arah, entah aku yang sekarang membawamu ke ujung jembatan untuk melompat secara bersamaan, atau kamu yang mendorong paksa agar aku yang jatuh duluan di dasar jurang. Perjalanan kita sekarang memang lagi tidak dalam keadaan baik, mungkin sedang belajar menguji seberapa lama kita bertahan atau memang sudah tak mau menetap lagi, banyak kemungkinan yang mengerumuni nurani.
Aku yang sekarang telah sampai hati melukaimu secara perlahan, dan aku yang telah berhasil menyeret mimpimu hingga ke ruang pribadi yang ditaburi harapan, hingga sekarang aku yang perlahan mohon izin pamit saat diri bersandar nyaman, karena apa ? akupun bingung menjelaskan. Setiap sapaan dan candaan hangat untuk mencairkan suasana tak lagi teruntai. Aku yang dulunya percaya diri dengan sebutan rumahmu, yang setelah lelah berkelana, menjadi tempat istrahat dan berteduh, kini tergusur dengan sendirinya karena ulahku. Aku yang dulunya bercerita banyak tentang luka padamu, sekarang malah menghadiahkanmu sekarung luka yang utuh.
Seperti pertengkaran nurani dan nalar, menengok nalar yang masih saja berpura-pura, dan bersembunyi di balik rasa bersalah, yang memiliki dalih tidak ingin melukai, sedangkan nalar lebih memilih menyerah. "ahh ada apa dengan diri ini". Memang benar kekecewaan tidak akan lari jauh dengan kata ditinggalkan. Di saat pikiran sedang memutar seperti kaset yang berjalan mundur, teringat jelas janji-janji, untuk tetap tinggal namun keadaan dengan mudahnya memporak porandakan untuk pergi, atau mungkin ada alibi yang dengan piawai memerankan kelicikan menyaru menjadi korban, mempamerkan luka seolah dirinyalah yang paling terluka, karena takut mengambil keputusan. Meninggikan ego sehingga tak mau menyamai luka dengan pengorbanan, terlalu lemah dengan serampangan membiarkan kenyamanan baru masuk daripada menyadari keberadaan yang lama.

Comments

Popular posts from this blog

Satu Langkah Menuju Angin

Cedera

Sebuah gelagat hidup