Memuja sela
Pagi ini berembun lagi. Matahari seperti malu untuk menampakkan. Kali ini untuk kesekian harinya, aku tak disampingmu. Tak lagi duduk berdampingan denganmu, memandangi wajahmu lebih lama lagi, mendengarkan nyaring ketut yang tak asing oleh telingaku, atau memelukmu saat mengerai rindu. Aku hanya bisa menerka, bahkan mengira-ngira kabarmu, sehatkah, baik-baik saja atau bahagiakah kehidupanmu saat berjauhan. Malam tetap seperti ini, tak lama mengganti pagi, besoknya dan seterunya. Ketahui saja, kadang egoku melambung tinggi melupakan daratan, kadang egomupun begitu sama. Biarkan hanya jarak yang membentang panjang diantara kita. Perasaanmu tak usah berjarak. Tetap jadilah orang yang bisa kupercaya, walau pikiranku meyakinkan kisah ini tak akan melahirkan lagi luka. Ketahuilah aku ingin, kau kujadikan semesta. Seseorang yang mampu mengutuhkan sepenggal kata yang tak lengkap, bahan bakar untuk semangat. Kisah kita masih panjang untuk dijalani. Akan ada hal termudah dan tersulit. Mungkin bisa saja ada rasa jenuh. Akan tetapi, aku ada karena untuk melengkapi untuk kamu yang tak ingin terluka. Dan kamu ada untuk menutup ceritaku yang tidak sempurna. Tetaplah yakin: kita adalah dua orang yang saling merindu dan memahami jarak dari hari ke hari.
Pagi ini berembun lagi. Matahari seperti malu untuk menampakkan. Kali ini untuk kesekian harinya, aku tak disampingmu. Tak lagi duduk berdampingan denganmu, memandangi wajahmu lebih lama lagi, mendengarkan nyaring ketut yang tak asing oleh telingaku, atau memelukmu saat mengerai rindu. Aku hanya bisa menerka, bahkan mengira-ngira kabarmu, sehatkah, baik-baik saja atau bahagiakah kehidupanmu saat berjauhan. Malam tetap seperti ini, tak lama mengganti pagi, besoknya dan seterunya. Ketahui saja, kadang egoku melambung tinggi melupakan daratan, kadang egomupun begitu sama. Biarkan hanya jarak yang membentang panjang diantara kita. Perasaanmu tak usah berjarak. Tetap jadilah orang yang bisa kupercaya, walau pikiranku meyakinkan kisah ini tak akan melahirkan lagi luka. Ketahuilah aku ingin, kau kujadikan semesta. Seseorang yang mampu mengutuhkan sepenggal kata yang tak lengkap, bahan bakar untuk semangat. Kisah kita masih panjang untuk dijalani. Akan ada hal termudah dan tersulit. Mungkin bisa saja ada rasa jenuh. Akan tetapi, aku ada karena untuk melengkapi untuk kamu yang tak ingin terluka. Dan kamu ada untuk menutup ceritaku yang tidak sempurna. Tetaplah yakin: kita adalah dua orang yang saling merindu dan memahami jarak dari hari ke hari.
Pagi ini berembun lagi. Matahari seperti malu untuk menampakkan. Kali ini untuk kesekian harinya, aku tak disampingmu. Tak lagi duduk berdampingan denganmu, memandangi wajahmu lebih lama lagi, mendengarkan nyaring ketut yang tak asing oleh telingaku, atau memelukmu saat mengerai rindu. Aku hanya bisa menerka, bahkan mengira-ngira kabarmu, sehatkah, baik-baik saja atau bahagiakah kehidupanmu saat berjauhan. Malam tetap seperti ini, tak lama mengganti pagi, besoknya dan seterunya. Ketahui saja, kadang egoku melambung tinggi melupakan daratan, kadang egomupun begitu sama. Biarkan hanya jarak yang membentang panjang diantara kita. Perasaanmu tak usah berjarak. Tetap jadilah orang yang bisa kupercaya, walau pikiranku meyakinkan kisah ini tak akan melahirkan lagi luka. Ketahuilah aku ingin, kau kujadikan semesta. Seseorang yang mampu mengutuhkan sepenggal kata yang tak lengkap, bahan bakar untuk semangat. Kisah kita masih panjang untuk dijalani. Akan ada hal termudah dan tersulit. Mungkin bisa saja ada rasa jenuh. Akan tetapi, aku ada karena untuk melengkapi untuk kamu yang tak ingin terluka. Dan kamu ada untuk menutup ceritaku yang tidak sempurna. Tetaplah yakin: kita adalah dua orang yang saling merindu dan memahami jarak dari hari ke hari.
Comments
Post a Comment