Keruh
Seongok manusia yang terjatuh entah tepat atau di waktu yang salah. Perihal rasa tak perna bisa tertutup dengan rapat. Rasa yang tak berbentuk namun nyata untuk di rasa. Perjalanan membuat kepala dengan enteng bertenggeran di bahu yang entah, siap untuk bersandar atau hanya menyediakan bahu tanpa merasa rasa yang tertinggal. Pasca, semesta menggeser porosnya tepat di hadapan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku, luruh berantakan. Menerbangkan semua janji serapah yang pernah terikat, namun jujur pada diri.
Terlalu naim, menyemburkan sedikit pesam, menaburkan percikan animo yang lirih. Selalu berada pada lingkaran porosmu, membuatku semakin sadar kehadiran yang tak bisa luput. Kau suguhkan cerita malam, cerita gunung, cerita hujan. Dan cerita hingga ku terlalu terlelap. Tenang, kau tak usah khawatir perihal aku yang tidak memaksamu untuk kau hadiahkan jarak lagi untuk aku. Kau rasa yang muncul tak memaksa untuk saling memiliki, namun secara sadar untuk saling menyadari keberadaan. Aku yang terlalu ke kamu. Atau aku yang terlalu beranggan yang terlalu egois untuk tetap bersedia menjadi telingamu. Aku sadar, aku tidak ingin bermimpi menjadi kita. Aku merasa sudah cukup dengan rasa yang tak berbentuk, namun mudah untuk di kelola. Semoga semesta membawamu ke hadapanku. Kalau dunia sedang bermain-main dengan kita yang menurutku terlalu naim kita taklukan dengan sumpah-sumpah tidak saling meninggalakan.
Semesta
ReplyDeletekembalikan kepadanya
Delete