Antyanta

Sebab yang berakibat
Tatapan yang nanar dan ingin lebih lama untuk menetap, untuk masa di ujung kisah hidup
Entah roda sepeda atau sendal yang berjalan bersama namun hanya bisa saling berdampingan namun tak pernah bersatu, hanya memiliki tujuan untuk jalan bersama.
Tertanam jelas di kepala, tumbuh dan mengakar kokoh di pikiran untuk semua jalan dan jarak tempuh terlewati.
Kau senang sekali mengajari berjalan, berlari, hingga bersenang-senang dan laiknya diorama.

Perlahan aku kumpulkan, meraba, dan mengais serpihan kaca pecah akibat kecemasan yang selalu menjadi bumerang untuk aku mengkhawatirkan aku yang sudah berdiri di depan kaca siapa aku ?
Produksi dan menghasilkan jawaban, menemukan diriku yang berlari-lari di dalam matamu melihat banyak taman bermain di dalam tubuhmu yang, mungkin, iya mungkin aku sedang sibuk membereskan namun yang lain siap untuk menganggu yang aku bereskan. Pohon yang rindang, hutan yang lebat, dan suara kicauan burung bebas berteriak dan mengekspresikan kehadiranku yang ada di dalam dirimu.

Di tanganku sedang banyak setumpuk tanya yang belum siap untuk dijawab.

Aku menunggu, dan kamu sekedar memandangiku dengan tangan yang dipangku di atas dagu, menikmati sambil bersiul, kacau kan ?
Bagaimana isi rumahku ? semuanya sudah kau sapu bersih, semua sudah rapi dan tak berbekas. Kalau memang kau belum yakin untuk duduk lebih lama denganku di sofa dan menyandarkan kepala sekedar mengeluh dan menangis lebih dalam di pangkuan kaki.

Entahlah aku terlalu menantimu, terlalu menunggu kelak rasa harap dari sisa waktu akan menguap, dan lenyap tak terlupakan.

;lalu siapa yang akan tanggung jawab atas rasa ini?

Comments


  1. Hanyalah gurita

    Sebenarnya aku pun ingin terus mengajarimu, entah sampai kau bisa berlari sendiri atau terbang bagai walet bersama serpihan-serpihan debu putih di langit. Tetapi, pendamping tetaplah pendamping, aku tidaklah kekal seperti sang pencipta yg maha segalanya. Maaf bila aku tidak bisa menemanimu terbang. Karena aku .....
    Hanyalah gurita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kau tak perlu memaksa. Cukup ajari aku berenang, mendalami laut bersamamu cukup membuatku sedikit berbahagia di kehidupan ini.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Satu Langkah Menuju Angin

Cedera

Sebuah gelagat hidup