KKN (Kuliah Karena Nilai)
Berapa banyak kalimat hati-hati di jalan dan jaga diri saat jauh.
Pukul 01.00 semua barang sudah siap untuk di boyong pergi dari zona nyaman (rumah), mulai dari baju oblong, celana lapangan, pakaian dalam "HAL TERPENTING", perlengkapan mandi, dan perlengkapan tata rias dan tata-tamba urusan. Selepas semuanya rampung, seluruh fisik, gagasan, raga dan jiwa maupun batin siap untuk nge-kos di daerah orang.
Kopor dan tas tentengan ngemper di depan gedung PKM, mobil-mobil berlarik warna-nya biru muda, dan muka-muka mahasiswa yang masih sembab karena semalam begadang untuk mempersiapkan pelepasan (tapi tidak dilepas paksa) mahasiswa KKS.
Sebagai mahasiswa tingkat menuju selesai, KKS Pengabdian juga merupakan mata kuliah yang wajib ditempuh untuk menjadi seorang Sarjana di perguruan tinggi. Terlintas kenapa sih mahasiswa harus melewati yang namanya KKS Pengabdian. Ohhh seperti itu toh, karena menjadi salah satu poin dari Tri Dharma Perguruan Tinggi pada poin yang ketiga yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat.
KKS akronim dari Kuliah Kerja Sibermas. Sibermas yang berakronim dari Sinergi Bersama Masyarakat, yang menurut KBBI adalah melakukan kegiatan atau operasi gabungan. Mengabdi yang menurut KBBI meng·ab·di v menghamba; menghambakan diri; berbakti: mereka berjanji akan benar-benar ~ kepada nusa dan bangsa; . Sebuah kata yang berat untuk di artikan dalam diri.
Sebagai seorang mahasiswa yang masih kurang akan pengalaman dalam pengabdian, saya menjadi orang tidak sabaran untuk sesegera mungkin untuk bagaimana mengimplementasikan kata "PENGABDIAN" itu di diri sendiri, terutama pengalaman hidup. Kehidupan Repetisi perkotaan dan kehidupan yang sistematis membuat diri saya bosan dengan kota beserta semua isinya, pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di kepala. Apakah pedesaan lebih mengasyikan dari pada hiruk pikuk kota yang munafik?. Pertanyaan itu masih belum terjawab di masa itu.
Setibanya di lokasi KKS Pengabdian tepatnya di Desa Makmur Abadi Kecamatan Tolangohula Kabupaten Gorontalo. Kaki saya berpijak di atas tanah tak beraspal , udara yang berabu dan anugerah matahari yang cukup sangat panas. Setibanya di depan pintu gerbang yang bertuliskan Kantor Desa Makmur Abadi, disitu merupakan tempat pertama yang disambangi untuk memulai cerita baru untuk kehidupan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perbincangan yang panjang. Mulai dari latar belakang desa , masyarakat dan kebiasaanya menjadi pokok pembicaraan saya dan kepala desa. Mobil penjemputpun tiba dengan selamat. Sesegeralah kopor dan seluruh barang bawaan kami di angkat mobil. Mahasiswa yang berjumlah sepuluh orang, kepala desa dan aparatpun berjalan kaki menuju posko yang sudah di tempatkan oleh ayahanda. Kaki yang berjalan dengan tak sabar dan pikiran yang berharap posko yang sederhana namun memberikan kenyamanan. Pandangan kami tertuju pada rumah yang besar dan berlantai 3 itu, jauh dari pikiran kami mahasiswa KKS ini akan menumpang di rumah yang terbilang seperti rumah ftv-ftv yang ada di tv. Ternyata harapan jauh dari ekspetasi. Benak berkata "Asik nampaknya tak akan merasakan hidup susah" tapi hati berbanding terbalik "sepertinya ini terlalu berlebihan untuk dirasakan seorang mahasiswa dalam pengabdiannya, karena kebiasaan yang di kota serba apa-apa mudah untuk di lakukan disini akan terjadi lagi hal demikian, aahhhh". Hati yang tak enak dan belum belum bisa menerima kalau kami ber-10 akan tinggal dirumah ter-Istimewa ini. 1-7 hari kami menjadi anak tumpang di rumah istimewa ini kami seperti pembantu baru di rumah yang istimewa ini, bangun pagi bergelut dengan sapu dan pel, bunyi belanga yang ribut membuat rumah ini seperti mempunyai penghuni baru.
15 hari terlewati beberapa program yang diusungkan kordes dan anggotanya belum terlaksana karena keadaan desa yang masih sibuk dengan urusan pemilihan kepla desa. Rapat kerja bersama masyarakat kadus dan aparatpun terlaksana. Keesokannya kami melaksanakan program yang telah di sepakati saat rapat kerja.
Disiplin, kehadiran, kerjasama, dan perilaku masing-masing dari kami sepertinya sudah mulai menampakan. Percecokan hingga ketidak cocokan mulai ada, nyaman, ketidak nyamanan, sudah menjadi bumbu-bumbu kami di posko, dan program demi program terlewati perlahan namun tak pasti. Ketika semua khilaf, semuanya diam, semuanya dungu program tak berjalan dengan baik. Ketika ego sendiri bertemu dengan ego yang banyak pasti ego yang sendiri akan kalah dengan yang banyak. Beban, dan tanggung jawab mengerumuni pikiran dan hati, saya sebagai kordes sebagai koordinator yang mengkoordinator rekan-rekan dan program kerja mulai muak dengan kebiasaan yang ada. Seperti awal manis tengahnya pahit, rekan-rekan seperti taacuh, tak seperti memiliki tanggung jawab. Cara demi cara, metode demi metode yang mulai diterapkan tak berguna seperti sama saja, TAK TERPAKAI. Konsep dan gagasan jauh, sangat jauh dari harapan akan terlaksana. Kebiasaan rekan-rekan yang ada dikota terbawa di KKS Pengabdian ini, ingat ini pengabdian bukan sekedar tidur-tiduran,telfonan bersama pacar yang jauh disana, dan mengeluh. Sepertinya semuanya terlalu acuh, terlalu cuek dengan kata pengabdian atau bersinergi bermasyarakat. EKSPETASI YANG TERLALU JAUH DARI HARAPAN.
Kekecewaan pada diri sendiri, kenapa rekan-rekan tak ada yang bisa sepaham dengan saya ? Ada apa? Atau apakah teman-teman merasa ini menjadi beban ? Ataukah Apakah saya terlalu egois untuk pemikiran apakah ini pengabdian ?. Ini pengabdian bukan malas-malasan. Kurangilah waktu tidurmu ini desa bukan kota. Dongkol pun banyak diproduksi tak henti. Semua dongkol membuat saya kuat, membuat saya semangat, membuat saya bangkit. Apakah ini namanya KKS Pengabdian ataukah KKS Pendewasaan? Disini saya bukan banyak belajar bagaimana namanya Pengabdian melainkan Pendewasaan.
45 hari terlewati masih tetap yang sama Pendewasaan bukan Pengabdian. Hari terakhirpun menjadi semua tumpahan unek-unek keluar saya lega, mengikhlaskan semua yang telah saya keluarkan jiwa, raga, gagasan, tenaga, semuanya saya anggap sebagai ibadah. TERIMAKASIH TEMAN-TEMAN sudah menjadi guru pendewasaan saya. Kepada 9 orang rekan-rekan saya
- Kasiyanti seorang mba yang menjadi rekan partner saya baik di dapur maupun urusan curhat mencurhat.
- Irma hasyim, perempuan yang ribetnya yang patut di acungi jempol
- Voni van solang, berjiwa emak-emak yang tinggi
- Luksiana Lasimpala, putri tidur yang sering mengeluh
- Sulastri Ahmad, makce yang tak kenal waktu untuk berkomunikasi dengan pacarnya
- Ali Riskiono, lelaki yang belum siap untuk bertaruh namun beda tipis cerewetnya dengan perempuan
- Alvi sigar, pangeran bergitar yang sulit untuk ngomong, tapi lapar selalu bermain kode
- Ishak djakaria, sosok calon suami yang menjadi idaman perempuan posesif
- Tezha male, lelaki yang tak kuat menahan rindu untuk perempuannya yang LDR dan hoby penyedot makanan berskala besar
Terima kasih memori yang sudah di ukir, terimakasih pendewasaanya dan terimakasih sudah mau berteman dan berpartner ship di KKS Pengabdian ini.
Kepada ayahanda Pak Gafar, Ibu-Ibu Aparat desa yang saya lupa namanya-namanya siapa. Kepada kadus-kadus yang sudah mau menerima kami kalau kami bertamu dan ngerepot di dusun kalian. Kepada pak Anis dan Ibu terima kasih tumpangannya di rumah istimewa ini. Terimakasih kepada asisten rumah tangga yang siap sedia membantu kami dari kelaparan di posko. Kepada ketua karang taruna dan seluruh anggota karang taruna dan rema muda yang sudah mau bertamba-tamba kesibukan dan urusan bersama kami mahasiswa ung. seluruh masyarakat yang sudah menjadi guru atau pengukir cerita menginspirasi berkehidupan saya. Dan terpenting dan ter amat special rekan-rekan KKS Margomulya CS yang tak perlu lagi disebutkan satu persatu, terimakasih untuk kedewasaan dan kebijaksanaan rekan-rekan. Terakhir untuk Margomulya yang sudah menjadi penguat dan lawakan-lawakan yang sudah membuat saya lupa dengan keadaan sulit. Yang pastinya terimakasih semuanya untuk pengalaman berharga dan tak bernilai tukar rupiah ini.
See U on Top







semangat terus kordedes
ReplyDeleteharus di kasih semangat terus, biar ngak kendor !!!
Deletebtw biasaiin kalau ngestalk blog jangan di dpan penulisnya ;)))))
This comment has been removed by the author.
DeleteTapi kan sudah tidak menjadi kordes lagi.
DeleteKalau baca di depan penulis sepertinya bukan ngestalk namanya kan? Koreksi kalau saya salah.
Just want to remind. Periksa lagi kalau ingin mempublish postingan, masih banyak typo di dalam tulisan anda.
Kenapa hapus-hapus komen ?
DeleteYa salah musti banget gitu di depan yang nulis. Si penulis bisabisa gk prcaya diri lagi buat nulis -_-
Biar misterius
DeleteTapi nyatanya kan engga bikin sang penulis jadi gapercaya diri kan?
Kenapa musti misterius ? Emang gitu banget untuk dikejar ?
DeletePercaya diri kok. Mau tanya apa sama penulisnya ? Hm
Tidak bolehkah menjadi misterius? Selalukah misterius itu dikejar?
DeleteNanti kalo udah ada Q & A saya akan bertanya di waktu itu.
Trbaik ini kordes. Hebat hebat
ReplyDelete🎓🎓🎖️🎖️
ReplyDelete