Magang layak kacung
Tidak asing bukan untuk
mahasiswa tingkat menengah hampir selesai yaitu semester tujuh, untuk sesegera
mungkin menyelesaikan yang namanya mata kuliah wajib yang harus diikuti yaitu “MAGANG”
. Begitupulah yang akan diikuti saya dimana masih menjadi mahasiswa semester
enam menjelang semester ganjil berulang, dengan inisiatif agar waktu libur
puasa bisa terisi dan berfaedah dengan mengambil langkah untuk mengikuti
magang.
Susana pagi yang membuat
saya terbangun dengan terpaksa, membuat saya pagi itu menggerutu dan jengkel
dengan bangun yang menurut saya terlalu pagi, untuk segera mempersiapkan
penampilan terbaik saya saat pelepasan magang.
Skipp setelah kejadian
setibanya di kampus untuk persiapan magang, karena tak ada hal yang menarik
untuk diceritakan di dalam tulisan ini. Kami (Mahasiswa magang) pun dilepas, tapi bukan di lepas paksa.
Tepat
di tanggal 23 mei 2017. Saya dan dua sejawat rini, dan tiya. Resmi menjadi bidadari
magang mahasiswa magang di salah
satu perusahaan bumn terbesar di indonesia. Siapa yang tidak kenalperusahaan PT.PERTAMINA (Persero) adalah sebuah BUMN yang bertugas mengelola penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia (Wilkipedia). Kantor
yang terletak di Jl. Yos Sudarso No.6, Tenda, Kec. Hulonthalangi, Kota
Gorontalo, Gorontalo. Kantor yang terletak tidak terlalu
jauh dari pusat kota dan berapit dengan gunung dan lautan.
Linimasa yang cukup memakan waktu
yang tidak panjang empat puluh lima hari. Cukup membawa saya mengerti arti
magang. Menurut kbbi magang : calon
pegawai (yang belum diangkat secara tetap serta belum menerima gaji atau upah
karena dianggap masih dalam taraf belajar. Dalam kalimat masih dalam
taraf belajar, membuat otak saya sedikit mengeras seraya memikirkan apalah arti
seseorang yang ditempatkan untuk belajar. Sudahlah cukup lama kami belajar di
kampus tak asing dengan namanya belajar. Okelah ini merupakan salah satu proses,
dalam suatu taraf belajar. Tapi benarkah langkah, para dosen melepaskan
mahasiswa didikannya untuk belajar keluar dari hiruk suasana pembelajaran membosankan
dengan magang ?. Jawabannya keliru benar
sekali, kami lebih mengerucutnya, saya tidak dapat belajar apa-apa di selama
magang. Mau belajar apa ? duduk diam tanpa pekerjaan, memainkan telephone
kantor untuk menelpon sahabat, memainkan layar ponsel yang hanya sekeliling
sosmed seperti instagram whatssup dan lain sebaiknya atau menjadi babu suruhan
para pegawai kontak atau pegawai tetap di dalam perusahaan.
Tepatnya
BABU, empat huruf membuat hati semakin tercabik. Saya keberatan dengan ucapan
salah satu pegawai di perusahaan dengan perkataan “KALIAN DISINI TIDAK KURANG
LEBIH SEPERTI BABU”. Seperti dilempar bom atom berkekuatan nukllir menghampiri
hati yang membuat otak tak sedikit singkron dengan perasaan saya, dengan
mengambil nafas panjang dan memikirkan matang agar tak terpancing oleh
perkataan itu. Lambat laun otakpun mencerna dengan baik perkataan empat huruf
itu setelah singkron menjadi akal perkataan itu ternyata betul adanya.
BABU.....BABUUU.
diulang-ulang di produksi otak, yaap saya sadari dan saya akui, tak lama otak
dan mulutpun saling terkonek untuk membantah perkataan itu, jawaban klasik
mahasiswa yang dikeluarkan oleh mulut saya.
Hari
berganti, waktu banyak menyita kenangan. Tak terasa saya dan dua sejawat saya
rini dan tiya, akan segera kembali lagi ke habitat kami yang sesungguhnya yaitu
menjadi MAHASISWA apa adanya lagi. Empat puluh lima hari menjadi hari yang
berat maupun ringan bagi saya, mulai dari mengubah cara saya bangun yang
biasanya bangun agak siang menjadi pagi walaupun kadang saya ke kantor
menjelang kesiangan. Waktu yang tak cukup lama, taraf pembelajaran hampir
habis, pembelajaran yang menurut saya hanya tiga puluh persen, sedikit cerita
lagi. Tatkala saya di bagian gas epiji disitulah merasa menjadi mahasiswa lagi
duduk diam memerhatikan seseorang berbicara, tapi kali ini bukan dengan dosen
bermuka tua yang bersifat keanak mudaan, tapi seorang lelaki yang tak bisa di
katakan berparas sedikit agak tampan, namun manis di pandang, pak angga. Dari beliaulah
saya menjadi mahasiswa magang yang disebutkan pada pengertiaan kbbi di atas
mengenai magang.
Banyak
muka-muka dan nama baru yang ditelan otak memaksa untuk mengingat untuk
meproduksi hasil kenangan. Ka indah, Ka mimin, Ka dian dan ka Pipi empat orang
perempuan yang berkeliaran di kantor kecil, dan bapak amin, pak dadang, pak
litty, pak yus, pak kadek, pak gaco-gaco dari dua sejawat saya pak andri dan
pak randi, pak ronal selaku tutor kami selama empat puluh lima hari, pak-pak
satpam yang tak sanggup saya tulis nama masing-masing karna saya lupa nama kalian,
pak CS, pak supir-supir kantor dan pak said selaku OH di perusahaan yang
kantornya kecil namun besar halamannya, saya mengucapkan terimakasih banyak
sudah mau menerima saya dan dua sejawat saya rini dan tiya untuk menerima
pembelajaran yang kecil maupun besar.
Saya
yang masih kurang belajar dan masih dalam tahap belajar menjadi manusia yang
tidak membosankan di muka bumi ini. Mendoakan bapak-bapak dan ibu-ibu,
kakak-kakak sekalian sukses dan diberikan kesehatan selalu oleh allah.
Sekian
jurney singkat saya ucapkan banyak terimakasih sudah menyempatkan waktu selama
membaca tulisan ini.
Dede
Daipaha
Comments
Post a Comment