Tak perlu lagi belajar untuk bahagia

Kamu cuma perlu duduk diam di atas kursi dengan nyenyat bersama secangkir kenangan yang masih aku sajikan untukmu.
Tak perlu lagi menjelaskan. Aku sudah cukupkan maksudmu  untuk mengerti. Di mana disaat  keadaan dipaksa melepaskan aku harus bisa terima. Meskipun inginku menolak, tapi dengan sikapmu menunjukan kita tak akan bahagia bila bersama seakan kau memecut hubungan ini untuk segera di akhiri. Seingatku genggaman tanganku enggan melepaskan kebahagiaan ini, laksana genggaman yang makin erat hanya menimbulkan rasa mengiris perlahan disalah satu kita. Berhentillah jadi orang bengah lagi. Hanya karena saat itu aku masih sangat menyukaimu, bukan berarti kau memanfaatkan keadaanku.
Berbahagialah karena dengan melihatmu bahagia tanpa diriku, itu alasan yang paling cukup untuk sekarang.
Maafkan jika aku salah karena telah memutuskan kalau aku terlalu cepat jatuh iyaaa, jatuh cinta kepadamu. Dan jangan pernah merasa dirimulah yang paling tersakiti dari cerita ini jika kau tak pernah berdiri di posisiku.
Kelak nanti kau telah merasakan bahagia dan kembali menemuiku, akupun belajar untuk bisa jadi dirimu. Yang terlihat tanpa beban dan dengan mudah pergi pamit dan meninggalkan diriku.


*DD


Comments

Popular posts from this blog

Satu Langkah Menuju Angin

Cedera

Sebuah gelagat hidup