Semu

Raga yang berlalu di situlah aku merasa ada ruang semu, seharusnya kamu katakan padaku terlebih dahulu, agar tak kuberikan semua hatiku, hanya untuk dirimu. Dan apabila sudah seperti ini bagaimana aku bisa melihat lukaku sendiri? Luka yang kau torehkan kepadaku tercecer di setiap garis singgah hatiku. Yasudah kubiarkan luka ini merengguh malam kita, tak apa tertawalah atas sedih yang kurasa aku tidak akan membatasimu. Namun ingat, jangan harap pada pagi nanti rasa gundah ini masih menyarang dan tercecer lagi di garis hati. Iyaa, aku memang terpuruk. Tapi aku bukan yang BURUK.

Dengan tulisan ini bercerita, sadar dan tidak sadar tulisan ini dilahirkan bukan jadi perihal rindu atau ada perihal harapan lagi, rinduku sudah jadi bekas tinggalan jejak kaki di atas pasir pasca senja berganti menjadi kegelapan. Harapan yang dulunya tumbuh lestari, sekarang menjadi sabur bersama rasa merelakanmu. 


*DD

Comments

Popular posts from this blog

Satu Langkah Menuju Angin

Cedera

Sebuah gelagat hidup